Ketika memiliki uang cukup banyak, Nasrudin membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah.
Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di sini."
Ketika malam itu Nasrudin pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya.
Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal duri-durinya saja. "Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?"
Istrinya menjawab," Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!"
Nasrudin pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya.
Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras, "Ikanku tadi dua kilo beratnya. Yang barusan aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo, mana ikannya ? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya ?"
WAJO INTELEKTUAL MANDIRI
- HIMPUNAN PELAJAR & MAHASISWA WIM (HIPERMAWIM)
- PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII) CAB. WAJO
- APLIKASI KOMPUTER DAN KESEKRETARISAN (LIFE SKILL)
Nadir Sang penelusur Blog
Sabtu, 26 Desember 2009
Nasruddin Hodja - CARA MEMBACA BUKU
Seorang yang filosof dogmatis sedang meyampaikan ceramah. Nasrudin mengamati bahwa jalan pikiran sang filosof terkotak-kotak, dan sering menggunakan aspek intelektual yang tidak realistis. Setiap masalah didiskusikan dengan menyitir buku-buku dan kisah-kisah klasik, dianalogikan dengan cara yang tidak semestinya.
Akhirnya, sang penceramah mengacungkan buku hasil karyanya sendiri. Nasrudin segera mengacungkan tangan untuk menerimanya pertama kali. Sambil memegangnya dengan serius, Nasrudin membuka halaman demi halaman, berdiam diri. Lama sekali.
Sang penceramah mulai kesal. "Engkau bahkan membaca bukuku terbalik!"
"Aku tahu," jawab Nasrudin acuh, "Tapi karena cuma ini satu-satunya hasil karyamu, rasanya, ya, memang begini caranya mempelajari jalan pikiranmu."
Akhirnya, sang penceramah mengacungkan buku hasil karyanya sendiri. Nasrudin segera mengacungkan tangan untuk menerimanya pertama kali. Sambil memegangnya dengan serius, Nasrudin membuka halaman demi halaman, berdiam diri. Lama sekali.
Sang penceramah mulai kesal. "Engkau bahkan membaca bukuku terbalik!"
"Aku tahu," jawab Nasrudin acuh, "Tapi karena cuma ini satu-satunya hasil karyamu, rasanya, ya, memang begini caranya mempelajari jalan pikiranmu."
Nasruddin Hodja - MISKIN DAN SEPI
Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya.
Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya. Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nasrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah.
"Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.
"Jangan khawatir," jawab Nasrudin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."
Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"
"Bukan begitu maksudku, kau salah tafsir, Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman." jawab Nasruddin
Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya. Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nasrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah.
"Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.
"Jangan khawatir," jawab Nasrudin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."
Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"
"Bukan begitu maksudku, kau salah tafsir, Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman." jawab Nasruddin
Nasruddin Hodja - HIDANGAN UNTUK BAJU
Nasrudin menghadiri sebuah pesta. Tetapi karena hanya memakai pakaian yang tua dan jelek, tidak ada seorang pun yang menyambutnya.
Dengan kecewa Nasrudin pulang kembali.
Namun tak lama, Nasrudin kembali dengan memakai pakaian yang baru dan indah. Kali ini Tuan Rumah menyambutnya dengan ramah. Ia diberi tempat duduk dan memperoleh hidangan seperti tamu-tamu lainnya.
Tetapi Nasrudin segera melepaskan baju itu di atas hidangan dan berseru, "Hei baju baru, makanlah! Makanlah sepuas-puasmu! Untuk mana ia memberikan alasan Ketika aku datang dengan baju yang tadi, tidak ada seorang pun yang memberi aku makan. Tapi waktu aku kembali dengan baju yang ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan makanan yang enak. Tentu saja ini hak bajuku. Bukan untukku. "
Dengan kecewa Nasrudin pulang kembali.
Namun tak lama, Nasrudin kembali dengan memakai pakaian yang baru dan indah. Kali ini Tuan Rumah menyambutnya dengan ramah. Ia diberi tempat duduk dan memperoleh hidangan seperti tamu-tamu lainnya.
Tetapi Nasrudin segera melepaskan baju itu di atas hidangan dan berseru, "Hei baju baru, makanlah! Makanlah sepuas-puasmu! Untuk mana ia memberikan alasan Ketika aku datang dengan baju yang tadi, tidak ada seorang pun yang memberi aku makan. Tapi waktu aku kembali dengan baju yang ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan makanan yang enak. Tentu saja ini hak bajuku. Bukan untukku. "
KEHADIRAN
temaram hati sentuh bulir air
jatuh berdenting di genangan duka
membiarkan gelombangnya meluas
hingga tak lagi tepi tersisa
sementara malam terus mendekap
hembusan angin malu menyapa
tak dirasa begitu kuat membakar kering hati
mencoba hadir disaat bara menyala
berarti mendekap sembilu
dan mati ...
adakah cinta kan hadir
disaat raga mati tak berdaya
padahal cinta tak pernah mati
mata boleh tertutup rapat
tapi jiwa terbentang luas menanti air kehidupan
itulah cinta ...
(coretan hati, waktu sekolah dulu)
jatuh berdenting di genangan duka
membiarkan gelombangnya meluas
hingga tak lagi tepi tersisa
sementara malam terus mendekap
hembusan angin malu menyapa
tak dirasa begitu kuat membakar kering hati
mencoba hadir disaat bara menyala
berarti mendekap sembilu
dan mati ...
adakah cinta kan hadir
disaat raga mati tak berdaya
padahal cinta tak pernah mati
mata boleh tertutup rapat
tapi jiwa terbentang luas menanti air kehidupan
itulah cinta ...
(coretan hati, waktu sekolah dulu)
Konon, ketika saya berumur 7 tahun, saya pernah menangis sangat mengerikan seharian. Saya ingat sedikit, ketika itu pada mulanya saya dibisikkan oleh beberapa orang lelaki yang lebih tua dari saya, tentang satu nama yang sangat asing. Tentu, bukan UFO atau kapal terbang. Tapi, (maaf) v-a-g-i-n-a (selanjutnya dapat dibaca V) J. Mereka kakak-kakak satu pengajian dengan saya dulu. Mereka yang bicara keras, mencuri jambu dan menghisap rokok. Sumpah mati, ketika itu saya tak tahu apa yang mereka lakukan. Saya hanya tahu bahwa mereka pandai tertawa dan saya takjub pada asap yang keluar dari mulut mereka, seperti asap dari cerobong kereta api…
Begitulah, mereka membisikkan nama yang sangat asing, dan mereka menyuruh saya memintanya dari kakak perempuanku yang mereka bilang cantik. Mereka sebut nama asing sekali lagi, dengan tangan menunjuk arah bawah pusarnya, lalu ia mengacungkan jempol dengan tawa yang renyah. Mereka menyebut nama kakakku. Mereka tertawa-tawa, saling dorong satu sama lain, dan saya berjingkrak ikut gembira.
Dalam kepala kecil saya ketika itu, saya hanya tahu bahwa saya tengah membayangkan sebuah makanan yang lezat atau sebuah mainan yang bagus dan barangkali sengaja disembunyikan kakak perempuanku dibawah perutnya. Sepanjang jalan pulang, yang saya tahu saya ingin V. Sampailah saya di rumah, dan keluarlah permintaan itu: saya ingin V dengan ledak tangisan saya yang konon, sangat mengerikan. Tak seperti ketika saya meminta uang jajan, permintaan kali itu tak pernah dikabulkan. Saya malah dapat kemarahan yang panjang dari ibu dan kakak perempuanku. Saya hanya dapat jeweran seperti laiknya jeweran ketika saya menghabiskan makanan kesukaan kakak saya di lemari kamarnya.
Saya menangis seharian, konon sangat mengerikan, dan mereka—kakak-kakak saya—menceritakannya kembali. Saat mendengar kembali cerita masa kecil itu, saya malu bukan kepalang. Dan tahukah kalian, tangisan saya yang mengerikan itu tiba-tiba berhenti ketika kakak saya benar-benar memperlihatkan apa yang saya mau. Ia memperlihatkannya dengan wajah merah menyala. Ya, wajah yang sangat marah.
(Jika hari ini saya bertemu pemuda-pemuda berandalan itu, saya bersumpah akan mencaci maki mereka. Karena mereka mengajarkan saya melecehkan kaum perempuan…)
Tentu saja, ketika itu ibu saya bilang sambil tertawa, bahwa punya kakak tak enak dimakan dan ia akhirnya memberikan uang jajan yang lebih besar dari biasanya. Dengan syarat, saya dilarang menangis dan segera tutup kuping jika pemuda-pemuda berandalan itu bicara jorok. Lho, bicara jorok itu apa?
Tapi ketika itu saya mengangguk pelan. Lalu kakakku menambahkan bahwa V adalah lubang ular, dan ketika itu saya begitu takut mendengarnya. Ah, jika seandainya ketika itu yang meminta bukan anak sekecil saya, tetapi pemuda-pemuda berandalan itu, tentu kakak saya akan bilang: ini milik sah suamiku…Lho, suami? Nama asing apa pula itu? Apakah dia seekor ular? []
Ditulis tahun 2009
Entri ini dituliskan pada 25 Desember 2009 pada 12:16 pm dan disimpan dalam Ω Cerita Masa Kecil. Bertanda: Ω Cerita Masa Kecil, Sex. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.
Begitulah, mereka membisikkan nama yang sangat asing, dan mereka menyuruh saya memintanya dari kakak perempuanku yang mereka bilang cantik. Mereka sebut nama asing sekali lagi, dengan tangan menunjuk arah bawah pusarnya, lalu ia mengacungkan jempol dengan tawa yang renyah. Mereka menyebut nama kakakku. Mereka tertawa-tawa, saling dorong satu sama lain, dan saya berjingkrak ikut gembira.
Dalam kepala kecil saya ketika itu, saya hanya tahu bahwa saya tengah membayangkan sebuah makanan yang lezat atau sebuah mainan yang bagus dan barangkali sengaja disembunyikan kakak perempuanku dibawah perutnya. Sepanjang jalan pulang, yang saya tahu saya ingin V. Sampailah saya di rumah, dan keluarlah permintaan itu: saya ingin V dengan ledak tangisan saya yang konon, sangat mengerikan. Tak seperti ketika saya meminta uang jajan, permintaan kali itu tak pernah dikabulkan. Saya malah dapat kemarahan yang panjang dari ibu dan kakak perempuanku. Saya hanya dapat jeweran seperti laiknya jeweran ketika saya menghabiskan makanan kesukaan kakak saya di lemari kamarnya.
Saya menangis seharian, konon sangat mengerikan, dan mereka—kakak-kakak saya—menceritakannya kembali. Saat mendengar kembali cerita masa kecil itu, saya malu bukan kepalang. Dan tahukah kalian, tangisan saya yang mengerikan itu tiba-tiba berhenti ketika kakak saya benar-benar memperlihatkan apa yang saya mau. Ia memperlihatkannya dengan wajah merah menyala. Ya, wajah yang sangat marah.
(Jika hari ini saya bertemu pemuda-pemuda berandalan itu, saya bersumpah akan mencaci maki mereka. Karena mereka mengajarkan saya melecehkan kaum perempuan…)
Tentu saja, ketika itu ibu saya bilang sambil tertawa, bahwa punya kakak tak enak dimakan dan ia akhirnya memberikan uang jajan yang lebih besar dari biasanya. Dengan syarat, saya dilarang menangis dan segera tutup kuping jika pemuda-pemuda berandalan itu bicara jorok. Lho, bicara jorok itu apa?
Tapi ketika itu saya mengangguk pelan. Lalu kakakku menambahkan bahwa V adalah lubang ular, dan ketika itu saya begitu takut mendengarnya. Ah, jika seandainya ketika itu yang meminta bukan anak sekecil saya, tetapi pemuda-pemuda berandalan itu, tentu kakak saya akan bilang: ini milik sah suamiku…Lho, suami? Nama asing apa pula itu? Apakah dia seekor ular? []
Ditulis tahun 2009
Entri ini dituliskan pada 25 Desember 2009 pada 12:16 pm dan disimpan dalam Ω Cerita Masa Kecil. Bertanda: Ω Cerita Masa Kecil, Sex. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.
JERITAN HISTERIS
Ketika itu umur saya 7 tahun. Seperti anak seusia saya, saya mesti lucu di depan tamu. Saya mesti mencium tangan tamu setiapkali mereka datang berkunjung ke rumah. Tapi ketika suatu hari datang seorang perempuan muda, dia sudah lebih dulu mencium pipi kecil saya. “Lho, sudah besar ya” Dan ibu bilang: “Ini saudara Ibu juga. Ini saudara Bapak juga.” Tapi saya selalu malu-malu dipeluk orang asing. “Masih malu, ya…” dan kini saya tahu bahwa saudara bapak yang datang dari jauh itu sangat pendiam. Saya bisa mengingatnya cukup baik.
Perempuan muda itu saudara dekat bapak saya. Dan ibu bilang ia akan tinggal di rumah kita dalam waktu yang cukup lama. Ia bukan tamu, ia saudara kami. Meskipun begitu, saya masih canggung.
Pada mulanya rasa ingin tahu, seperti laiknya filsafat yang saya pahami hari ini. Saya kini bisa menilai bahwa ketika itu, saya lebih cocok disebut dalam istilah sunda: euleuyeur. Saya tidak tahu padanannya dalam bahasa Indonesia. Yang jelas, saya bisa menaiki pohon jambu, meja makan dan pundak bapak saya dengan kaki yang kotor. Rasa ingin tahu seorang bocah memang menakjubkan. Ia bisa lebih berani daripada orang dewasa.
Dimulai ketika saya melihat diam-diam perempuan muda itu dengan malu-malu. Ketiga gilirannya didekati, saya akan lari. Begitulah anak kecil. Ia acapkali punya dunia yang tak bisa ditawar-tawar, tetapi perlahan-lahan akan luluh dengan sendirinya. Setiapkali perempuan muda itu makan, saya melihatnya diam-diam dari balik pintu.. Ketika perempuan muda itu tidur, saya sesekali melihatnya. Setiapkali ia bercakap dengan bapak, saya memperhatikannya dengan malu. Ketika itu saya tahu, bahwa dia masih asing bagi saya.
Sampai suatu hari, saya melihatnya menjemur pakaian. Ketika melihat saya yang pemalu, perempuan muda itu akan menggoda saya. Lalu ketika dia masuk kamar mandi, saya dam-diam memanjat tembok. Perlu digaris-bawahi, kamar mandi di rumah saya ketika itu tak punya atap, sehingga yang asyik mandi dengan leluasa bisa sekaligus menatap langit. Begitupun saya ketika itu, bisa leluasa melihat perempuan muda itu mandi. Saya melihat dia tak memakai pakaian sedikitpun. Dan itulah pertama kalinya saya melihat perempuan dewasa tanpa baju. Saat itulah pertama kalinya saya melihat apa-apa yang belum saya lihat, yang belum pantas saya lihat.
Tapi celakanya perempuan muda itu menyadari seseorang tengah mengintipnya. Menjeritlah ia. Jeritan yang sangat histeris seperti seorang nyonya yang memergoki maling di rumah megahnya. Dia kaget. Saya juga kaget. Saya loncat dari atap hingga membuat luka di lidah saya. Kini saya baru menyadari ternyata anak seusia saya ketika itu bisa meloncat begitu tinggi. Sungguh fantastis!
Setelah saya dewasa, saya ceritakan pengalaman masa kecil itu pada seorang bapak yang tak sengaja saya kenal di sebuah warung kopi. Dia terkekeh mendengarnya.
“Hebat kamu ya, saya saja bisa melihat perempuan telanjang ketika umur saya 25 tahun. Ya itu ketika saya udah nikah. Lha kamu masih umur 7 tahun ketika itu, udah ketiban fatamorgana.” Bapak tua itu kembali terkekeh-kekeh.
“Ya, sama juga Pa. 2+5 kan 7…”
“Tapi beda dengan saya, kamu kan bertahun-tahun dihantuinya.”
Bapak itu terbahak. Hingga matanya berair.
Ditulis Desember 2009
Perempuan muda itu saudara dekat bapak saya. Dan ibu bilang ia akan tinggal di rumah kita dalam waktu yang cukup lama. Ia bukan tamu, ia saudara kami. Meskipun begitu, saya masih canggung.
Pada mulanya rasa ingin tahu, seperti laiknya filsafat yang saya pahami hari ini. Saya kini bisa menilai bahwa ketika itu, saya lebih cocok disebut dalam istilah sunda: euleuyeur. Saya tidak tahu padanannya dalam bahasa Indonesia. Yang jelas, saya bisa menaiki pohon jambu, meja makan dan pundak bapak saya dengan kaki yang kotor. Rasa ingin tahu seorang bocah memang menakjubkan. Ia bisa lebih berani daripada orang dewasa.
Dimulai ketika saya melihat diam-diam perempuan muda itu dengan malu-malu. Ketiga gilirannya didekati, saya akan lari. Begitulah anak kecil. Ia acapkali punya dunia yang tak bisa ditawar-tawar, tetapi perlahan-lahan akan luluh dengan sendirinya. Setiapkali perempuan muda itu makan, saya melihatnya diam-diam dari balik pintu.. Ketika perempuan muda itu tidur, saya sesekali melihatnya. Setiapkali ia bercakap dengan bapak, saya memperhatikannya dengan malu. Ketika itu saya tahu, bahwa dia masih asing bagi saya.
Sampai suatu hari, saya melihatnya menjemur pakaian. Ketika melihat saya yang pemalu, perempuan muda itu akan menggoda saya. Lalu ketika dia masuk kamar mandi, saya dam-diam memanjat tembok. Perlu digaris-bawahi, kamar mandi di rumah saya ketika itu tak punya atap, sehingga yang asyik mandi dengan leluasa bisa sekaligus menatap langit. Begitupun saya ketika itu, bisa leluasa melihat perempuan muda itu mandi. Saya melihat dia tak memakai pakaian sedikitpun. Dan itulah pertama kalinya saya melihat perempuan dewasa tanpa baju. Saat itulah pertama kalinya saya melihat apa-apa yang belum saya lihat, yang belum pantas saya lihat.
Tapi celakanya perempuan muda itu menyadari seseorang tengah mengintipnya. Menjeritlah ia. Jeritan yang sangat histeris seperti seorang nyonya yang memergoki maling di rumah megahnya. Dia kaget. Saya juga kaget. Saya loncat dari atap hingga membuat luka di lidah saya. Kini saya baru menyadari ternyata anak seusia saya ketika itu bisa meloncat begitu tinggi. Sungguh fantastis!
Setelah saya dewasa, saya ceritakan pengalaman masa kecil itu pada seorang bapak yang tak sengaja saya kenal di sebuah warung kopi. Dia terkekeh mendengarnya.
“Hebat kamu ya, saya saja bisa melihat perempuan telanjang ketika umur saya 25 tahun. Ya itu ketika saya udah nikah. Lha kamu masih umur 7 tahun ketika itu, udah ketiban fatamorgana.” Bapak tua itu kembali terkekeh-kekeh.
“Ya, sama juga Pa. 2+5 kan 7…”
“Tapi beda dengan saya, kamu kan bertahun-tahun dihantuinya.”
Bapak itu terbahak. Hingga matanya berair.
Ditulis Desember 2009
Langganan:
Postingan (Atom)